cinta islam is nomber one: ilmu
Berita Terbaru :

Latest Post

Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Jum'at dan Shalawat

Written By Yahya on Friday, 5 February 2016 | 18:00

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ  
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Jum'at dan Shalawat

Perbanyak bershalawat kepada kekasih hati, Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam..

"Sesungguhnya orang yang paling utama (untuk berkumpul dan dekat) denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku".

[HR. At-Tirmizdi, Ibnu Hibban dalam 'Shahihnya' dan Abu Ya'la dalam 'Musnadnya'. Al-Albani menyatakan 'Hasan' dalam 'Shahih Al-Jami' dan 'Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib]

-------------------------------

Jum'at dan Al-Kahfi

Disunnahkan Membaca Surat ke 18, Al-Kahfi Setiap Hari Jum'at, Boleh Juga Malam Jum'at.. Jangan Lupa Mengambil Pelajaran Darinya..

Mengapa Membaca Surat 18 Al-Kahfi Setiap Jum'at..?

Agar supaya tertanam dalam hati kita 4 kisah sehingga kita waspada dari 4 fitnah kehidupan..!

1- Kisah Ash-habul Kahfi (ayat 9-26) agar kita waspada dari fitnah agama.

2- Kisah si kaya dan si miskin (ayat 32-44) agar kita waspada dari fitnah harta.

3- Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidlir -Alaihimas Salam (ayat 60-82) agar kita waspada dari fitnah ilmu.

4- Kisah Dzul Qornain dan sikapnya terhadap Ya'juj Wa Ma'juj (ayat 83-98) agar kita waspada dari fitnah kedudukan.

Pendorong dan penghias agar manusia terjerumus ke dalam fitnah-fitnah besar tersebut adalah Iblis.. [Ayat 50]

Solusi dari semua fitnah tersebut terdapat di akhir surat, yaitu:

Iman kepada hari kebangkitan..!
[Ayat 110]

Diantara Fadhilah Membaca Surat 18 Al-Kahfi;

"مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ."

"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, niscaya akan memancar cahaya terang yang menyinari dirinya di antara kedua Jum’at".

(HR. Al-Hakim (2/399), Al-Baihaqi (3/249).
Berkata Ibnu Hajar dalam takhrij Al-Adzkar: "Hadits Hasan".
Beliau juga berkata: "Ini adalah hadis paling kuat tentang keutamaan membaca surat Al-Kahfi".
Lihat "Faidlul Qadir" (6/198).
Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam "Shahih Al Jami' (6470)."
-------------------------------

Tiada Hari Tanpa Al-Quran..

Ajarkan kepada anakmu Al-Qur'an, maka Al-Qur'an akan mengajarkan kepada anakmu segala sesuatu..!
-------------------------------

KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP ILMU SYAR'i

Written By Yahya on Saturday, 17 January 2015 | 09:21

KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP ILMU SYAR'Y

Tauhid Yang Pertama, Ilmu, Amal dan Dakwah

Berdakwah kepada tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya perbuatan syirik
Pentingnya Ilmu Syar’i dan Bahaya Bodoh Terhadapnya
Wahai saudaraku, kebutuhan kita terhadap ilmu sangatlah besar. Tidak ada diantara kita yang tidak butuh ilmu.

Oleh karena itulah Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata :

الناس محتاجون إلى العلم أكثر من حاجتهم إلى الطعام و الشراب لأن الطعام والشراب يحتاج إليه في اليوم مرة أو مرتين والعلم يحتاج إليه بعدد الأنفاس

“Manusia membutuhkan ilmu lebih banyak dari pada butuhnya pada makanan dan minuman, dikarenakan kebutuhan seseorang terhadap makanan dan minumam dalam sehari sekali atau dua kali. Dan kebutuhan manusia terhadap ilmu sebanyak tarikan nafas.

” Apalagi kita hidup di masa-masa menyebarnya kebodohan, kesesatan dan penyimpangan. Oleh karena itu kebutuhan kita kepada ilmu sangatlah mendesak.

Yaitu ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syar’i, ilmu tentang mengenal Allah, agama islam dan nabi-Nya Muhammad shallallahu alihi wasallam. Maka dari itu kita harus tetap semangat menuntut ilmu dalam keadaan apapun. Karena kebutuhan kita yang sangat kepada ilmu dan kita berharap mendapatkan berbagai keutamaan orang yang menuntut ilmu syar’i.

Ilmu syar’i mempunyai banyak keutamaan diantaranya :

1. Allah Subhaanahu wata’aala akan mengangkat derajat orang yang berilmu

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.“  (QS. Al-Mujadilah : 11)

2. Ilmu adalah warisan para nabi barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mendapat keuntungan yang sangat besar. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر

“Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan tidak pula uang dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mendapatkan keuntungan yang bsar.” (HR. Abu Dawud dan At-Timidzi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

3. Jika Allah mengkhendaki kebaikkan seorang hamba maka Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“ Barangsiapa yang  Allah kehendaki kebaikkan pada dirinya maka Allah akan pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dari Shahabat Mua’wiyah)

4. Allah akan memudahkan bagi orang yang menuntut ilmu jalannya menuju surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menumpuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan menudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

5. Ilmu kebaikkannya akan tetap ada walaupun orangnya sudah mati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoakannya (kedua orang tuanya).” (HR. Muslim)

Dan sebaliknya kebodohan dalam masalah agama mempunyai dampak jelek yang luar biasa. Tentang hal ini Allah Subhaanahu wata’aala berfirman dalam banyak ayat diantaranya :

قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“ Katakanlah: maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang- orang yang tidak berpengetahuan.? “ ( Qs. Az- zumar: 64)

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

 “ Bani Israill berkata: Wahai Musa buatlah untuk kami sebuah sesembahan ( berhala) sebagai mana mereka mempunyai beberapa sesembahan ( berhala). Musa menjawab : “ sesungguhnya kamu itu kaum yang tidak mengetahui (bodoh terhadap Allah)…” (Qs. Al A’raaf : 138 )

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di Rahimahullah : “

Kebodohan mana yang lebih besar dari seseorang yang bodoh terhadap Rabbnya, Penciptanya dan ia ingin menyamakan Allah dengan selain Nya, dari orang yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat (bahaya), tidak mematikan, tidak menghidupkan dan tidak memiliki hari perkumpulan (kiamat) “ (Taisirul Karimirrahman Syaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di pada ayat ini)

Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِى رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُونَ لِى رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ « قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلاَّ سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ

“Dari Jabir berkata: “Kami keluar pada sebuah perjalanan, lalu salah seorang diantara kami tertimpa sebuah batu sampai melukai kepalanya kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada para shahabatnya, apakah kalian mendapatkan rukhsah (keringanan) bagiku untuk bertayamum? Mereka menjawab : ‘kami tidak mendapatkan rukhsah untukmu, sedangkan engkau mampu menggunakan air. Kemudian ia mandi besar sehingga meningal dunia. Kemudian tatkala sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, kejadian tersebut dikhabarkan kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, bila mereka tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya.” (HR. Abu Dawud, di Hasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud : 2/159)

Lihatlah bagaimana kebodohan seseorang menjadi sebab hilangnya nyawa orang lain.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullaah :

ولا ريب ان الجهل اصل كل فساد وكل ضرر يلحق العبد في دنياه واخراه فهو نتيجة

“Tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok dari segala kerusakan dan dhoror (bahaya), kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan.” (Miftaah Daaris Sa’adah, 1/87)

Wahai saudaraku semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita nikmat menuntut ilmu syar’i. -Amin-.  Ada hal yang sangat penting untuk di perhatikan dalam menuntut ilmu. Diantarannya :

☑ 1. Memohon pertolongan, taufiq dan kekokohon kepada Allah Ta’aala dalam menuntut ilmu.

Manusia adalah makhluk yang sangat lemah, tidak ada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah Subhaanahu wata’ala. Oleh karena itu mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman

   إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang Kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (Qs. Al-Fatihah : 5).

☑ 2. Mengikhlaskan niat

Hendaknya seseorang mengikhlaskan niatnya dalam menuntut ilmu dalam rangka mencari ridha Allah semata dan bukan karena yang lainnya. Bukan karena mencari ketenaran atau agar dihormati orang atau mencari dunia.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

 “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Qs. Al-Bayyinah : 5)

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

 “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Qs. Al-Kahfi : 110)

☑ 3. Belajar dari guru bukan dari kitab

Ilmu di ambil dari lisannya para ulama. Dari para guru bukan dari kitab. Karena barangsiapa yang menjadikan kitab-kitabnya sebagai guru niscaya akan banyak kekeliruannya. Begitu juga belajar dari orang yang dikenal aqidah dan manhajnya.

Berkata Al-Imam Ibnu Siriin rahimahullah :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesunguhnya ini ilmu agama maka perhatikanlah oleh kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

☑ 4. Besungguh-sungguh dan berkesinambungan dalam menuntut ilmu

Seseorang hendaknya bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dari menghadiri majelis ilmu, menghapalnya dan memuroja’ahnya (mengulang-ngulangnya). Dan berkesinambungan dalam menuntut ilmu tidak terputus ditengah jalan. Karena dengan bersungguh-sungguh dan tidak terputus ditengah jalan sebab seseorang berhasil dalam menuntut ilmu.

Teknologi

Powered by Blogger.
 

Copyright © 2014. cinta islam is nomber one - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger